Dalam membangun sebuah bangunan, memperhatikan kekuatan pondasi menjadi hal yang sangat penting sebelum membangun bagian-bagian yang lain. Tak terkecuali dalam membangun karakter anak dan itu harus dimulai dari sedini mungkin. Sebab kalau tidak, maka akan mudah goyah bangunan tersebut.

Lalu apa saja jenis pondasi kokoh dalam pembangunan karakter anak itu? Al-Qur’an telah menyodorkan seorang bapak yang spektakuler buat kita teladani jejak langkah hidupnya, termasuk dalam hal yang tengah kita bahas kali ini. Dia adalah Luqman; si pemilik hikmah (al-Hakim).

Proses pendidikan anak yang dilakukan Luqman adalah proses pendidikan terbaik.

Terbukti langkah itu terabadikan dalam alQur’an untuk diikuti oleh segenap manusia di muka bumi ini, khususnya kaum muslimin, agar mampu melahirkan generasi sholeh/ sholehah.

Adapun langkah yang ditempuh oleh Luqman untuk membangun kepribadian nan sholeh dalam diri anak-anaknya, sesuai yang termuat dalam surat al-Quran, itu terdapat tiga hal; yaitu menancapkan ketauhidan, mengarahkan kepada ketaatan, serta membina agar senantiasa ber- akhlaqu al- karimah.

Masuk ke poin pertama; Menancapkan ketauhidan. Firman Allah; “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Perkara tauhid adalah perkara ushul bagi kehidupan manusia. Ini adalah penentu bagi keselamatan hidup manusia; khususnya di akhirat kelak. Sebaliknya, penanaman tauhid yang rapuh berpotensi menjatuhkan manusia ke lubang kesyirikan. Dan ini sangat berbahaya, karena masuk dalam kategori dosa besar yang tak terampuni.

Bagi orang tua, seyogianya menjadikan urusan yang satu ini menjadi urusan yang utama di atas urusan yang lain. memastikan bahwa anak-anak kita bertauhid dengan benar itu sangat penting. Ini pula yang menjadi misi utama diutusnya Rasulullah SAWdanpara Nabi di muka bumi ini; yaitu mentauhidkanAllah semata.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepada bahwa tidak ada Ilah melainkan Aku maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (al-Anbiya’: 25).

Setelah berupaya memurnikan serta menguatkan ketauhidan anak kepada Allah, maka pondasi berikutnya adalah menumbuhkan cinta dalam diri anak untuk gemar kepada ketaatan kepada Allah SAW. Ketauhidan/keimanan seorang hamba kepada Allah, menurut para ulama itu harus menyangkut tiga dimensi; hati, lisan dan perilaku.

Pada aspek perilaku inilah, orangtua harus senantiasa membimbing dan menumbuhkan dalam jiwa anak untuk cinta kepada ketaatan. Agar misi ini tercapai, kalaulah kiranya anak-anak masih sukar untuk diajak dengan cara persuasif, maka sekali waktu dengan melakukan sedikit kekerasan pun dibenarkan oleh agama. Inilah tuntunan Rasulullah SAW kepada umatnya, agar senantiasa memperhatikan ibadah anggota keluarganya; khususnya anak-anak.

Sabda Nabi SAW; ?Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad). Menjelaskan hadits tersebut, Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam kitab Al-Mughni; “Perintah dan pengajaran ini berlaku bagi anak-anak agar mereka terbiasa melakukan shalat dan tidak meninggalkannya ketika sudah baligh.”

Berikut bunyi tuntunan Luqman kepada anaknya yang direkam al-Qur’an. Firman Allah; “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (16)

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (17)

Selanjutnya, mengenai adab (akhlak al-karimah). Tidak ada hal yang akan bisa menjadi wasilah bagi seorang hamba untuk dicintai oleh penduduk langit dan bumi, kecuali akhlaknya. Sebab akhlak akan menuntunnya kepada kebaikan. Semakin orang berakhlak, maka akan semakin berhargalah jati diri seseorang. Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi ini tiada lain (juga) untuk menyempurnakan akhlak manusia; Sabda Nabi SAW; “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR.Bukhari dan Al-Hakim).

Sedangkan nasehat Luqman yang berkaitan dengan adab, tercermin dalam firman Allah dalam ayat berikutnya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang sombong lagi membanggakan diri” (18). “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (19).

Untuk itu, maka sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengajarkan akhlak kepada anaknya sejak kecil. Tegur mereka bila didapati berperilaku buruk, sebab ini bertentangan dengan konsep pendidikan yang ditawarkan Luqman sebagaimana terabadikan dalam Al-Qur’an.

Demikianlah di antara pondasi-pondasi yang bisa ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil, agar ke depan mereka sudah memiliki pijakan yang benar dalam menentukan sikap, ketika mereka dibenturkan dengan problematika kehidupan di dunia ini. (Khairul Hibri)

 

Sumber: Buletin Baznas Jawa Timur